Tuesday, March 29, 2011

Corat-coret

Sekarang, tgl 29 Maret 2011, saya lagi di Palembang. Kira-kira udah 17 hari saya ada di kota kelahiran saya ini.

Sekarang ini, kerjaan kantor saya lagi ga ada. Seperti saya bilang di tulisan saya sebelumnya, kalau saya udah resign dari kantor yang lama. Ini lagi nunggu SK dari kantor yang baru.

Selama tujuh belas hari ini, rutinitas saya cukup menyenangkan. Bangun pagi (agak siang siyy sebenarnya) rata-rata jam 8 pagi, leyeh-leyeh, sarapan, beres-beres rumah, mandi, baca novel, nonton, dll. Menyenangkan kenapa? Menyenangkan karena saya bisa bebas menentukan kapan saya mau bangun, kapan sarapan, mandi, jalan-jalan, dll. Meyenangkan juga karena saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sperti ngepel, mencuci baju, dll dengan maksimal sampai saya puas sama hasilnya..

Tapi walaupun menyenangkan, saya berharap tidak lama-lama lah saya menghadapi rutinitas ini. Saya berharap, pertengahan April, saya udah dapet SK saya, lalu kembali ke Jakarta untuk bekerja, dan kembali menjadi seorang wanita karier yang memiliki kehidupan yang tetap menyenangkan, yaitu bisa melakukan kegiatan yang saya senangi, seperti kehidupan saya selama tujuh belas hari di Palembang ini.

Sekian,
Vista

Friday, March 4, 2011

My Last Closing

Jam 8.50 malam. Saya masi di kantor utk closing. Periode closing bulanan dari tanggal tiga sampai tanggal 8 tiap bulannya. Lembur udah pasti buat tanggal-tanggal segitu.

Bukan hal yang luar biasa kerja sampai pagi karena kerjaan saya yg sebelumnya juga terbiasa dengan lembur.. Tapi di kantor ini beda. Di kantor ini, lemburnya rame... Satu divisi accounting isinya 9 orang! Belum lagi ditambah staf-staf nya pajak yang seru. Makin rame :D

Nahh minggu ini adalah closing terakhir saya. Karena minggu depan, tepatnya tujuh hari lagi, saya akan resign. Harus semangaattt !!! :D

Thursday, February 10, 2011

Bikin surat resign

Sekarang ini, pas jam istirahat ini, saya bikin surat resign. Ini kali kedua.

Yang pertama saya buat saat saya mau mengundurkan diri dari KPMG, suatu tempat yang telah memberikan saya begitu banyak hal yang indah. Saya mendapatkan teman-teman yang sampai saat ini menjadi teman-teman baik saya. Kami masih contact-contac-an, curhat-curhat-an, bikin acara ngumpul-ngumpul (walaupun sering bgt dibatalkan.. hehehehe :D... Ya maklumlah auditor.. I've been there hoohhooho).. Saya mendapatkan kesempatan menaikkan gengsi saya kalau ditanya "kerja dimana?" dan saya menjawab "KPMG".. Heheheheheee.. Oke2.. Bagi yang bukan dari fakultas ekonomi bolehlah kalau nanya balik "Itu kantor apa ya?" -.- Bukan cuma itu! Banyak banget pengalaman yg sangat indah dan berharga yang telah saya dapatkan dari kantor saya itu..

Yang kedua, yaitu saat ini, saya buat surat resign dari PT United Tractors, suatu tempat yang telah memberikan saya begitu banyak hal yang indah. Teman-teman yang baik. Yang saling mendukung satu sama lain. Terutama saat closing dan saat diaudit. Dimana pada masa-masa itu, dari pagi sampai pagi kami bersama. Dari stress dan ketawa-ketawa kami lakoni bareng-bareng..

Dari kedua pengalaman bikin surat resign ini, satu hal yang pasti... Saya bikin kedua surat resign ini sambil terharu.. Memang di kali kedua ini, saya ga sampai meneteskan air mata. Tapi jujur, saya sedih. Saya sedih untuk meninggalkan suatu tempat yang pernah menjadi rumah kedua saya, PT United Trators.

Namun saya telah mengambil keputusan yang bulat. Saya akan melanjutkan karier saya di tempat lain.. Selamat tinggal, PT United Tractors! Terimakasih atas semua kebaikan dan kebahagiaan yang telah diberikan kepada saya selama ini. Majulah terus!! Aku mendoakanmu selalu..

Wednesday, January 12, 2011

sedihh

Kali ini saya nulis blognya dari kantor. Pas istirahat. Ditemani sama sekotak susu coklat dingin. Sengaja saya pilih yang dingin, karena rasanya memang lebih enak kalau diminum dingin, dan sekalian buat mendinginkan pikiran saya yang lagi panas.

Panas kenapa? Saya ga mau bilang detail. Tapi secara garis besarnya, saya lagi kecewa. Kecewa karena sesuatu yang ada dalam bayangan saya, ternyata belum kesampaian.

Beberapa waktu belakangan, saya benar-benar merasa bahagia sama kehidupan saya. Saya merasa puas dan merasa mendapatkan hampir semua yang saya inginkan. But not today! Saya nangis. Saya sedih. Saya kecewa.

Tapi saya ga mau larut. Saya tetap percaya Tuhan punya rencana. Ia selalu punya rencana yang indah melalui semua tindakannya kepada saya, baik melalui tindakannya yang bikin saya tertawa atau menangis.. Saya percaya. Saya ga tau pasti si, kali ini apa rencana-Nya dengan membuat saya menangis seperti ini. But I know: surely, He is good to me.. All the way.. All the time :)


Tuesday, January 4, 2011

I miss my life before 24

Yes, I miss my life before 24.

I miss my life when I was under 10. When I used to play with my elder sister and my neighbors. It's the age when I think of only my happiness and worry about nothing.

I miss my life when I was 14. It's the age when for the first time, a guy, told me that he had "special feeling" about me. Yeaayy!! It's kinda weird, yes, because it was the first time. I didn't have enough time to consider to accept him as my boyfriend. I was easily answer "no" to him. Not because I didn't like him nor he had ugly face. No! But it just because I don't know what to do. He was my good friend. And he was two years older than me. We use to laugh and play together. So I just feel a bit weird if we start our relation into couple. And the main reason is I DONT KNOW WHAT TO DO!! ITS MY FIRST TIME! IT'S THE FIRST TIME A GUY TELL HIS SPECIAL FEELING ABOUT ME!

Alright, let move on..

I miss my life when I was 21-22. I used to have great times with my besties. I used to go from one mall to other mall with them, I used to meet them and telling stories with them in my "kosan" before we go to college, I used to laugh a lot with them..

Well, now I am 24. I have a very good life. And I'm so thankful for it. But I just miss my life before I was 24...

Wednesday, July 14, 2010

Belajar dari Suasana di Sebuah Poli Bedah Saraf

Selalu ada cara buat bersyukur..

Kemarin lusa, tepatnya hari Senin, setelah saya bolak balik Karawaci-Benhil-Pulogadung-Benhil-Slipi-Karawaci, saya (dengan sisa2 tenaga yg ga seberapa), saya sampai di sebuah rumah sakit swasta di daerah Karawaci untuk nemenin Tante saya yg dari Kalimantan buat konsultasi sama dokter spesialis bedah syaraf.

Jam 5 sore saya mulai "nongkrong" di rumah sakit. Untung saja suasana rumah sakitnya nyaman dan banyak sofa-sofa besar dan empuk di dalamnya. Bisa buat tidur-tiduran lah.. Jam 6 lewatan, saya sama tante makan malam dan setelahnya saya dan tante kembali melanjutkan kegiatan menunggu giliran konsultasi.

Alamaakk,,, lama kali punnnn.. Beberapa jam kemudian saya memutuskan buat jalan-jalan ke lantai bawah.. Ternyata lagi ada live piano performance di lobi. Yup saya memutuskan buat nonton pertunjukan piano itu sambil teleponan untuk menghilangkan rasa jenuh yang mulai berasa. Ga lama, pertunjukan piano selesai dan batere handphone saya low bat. Akhirnya saya memutuskan untuk balik lagi ke lantai 6, poli bedah syaraf, buat nemenin tante nunggu giliran..

Saya duduk santai sambil ngobrol-ngobrol sama pasien-pasien lain. Ga sengaja saya liat seorang anak kecil, taksiran saya kira-kira berumur 2 tahun. Lucu banget. Dia main sama mama dan papanya. Gelagatnya tenang dan ga hiperaktif. Pokonya dia cuma becanda sama mama dan papanya saja. Saya perhatikan lebih jauh, terlihat kalau dia mengidap hydrocephallus. Kepalanya membesar. Saya iba. Saya mikir: "Di usianya yang masih sangat kecil, dia sudah begitu...." Entah kenapa saya ga bisa melepaskan perhatian saya dari anak kecil itu. Saya melihat dia ga terlalu aktif seperti layaknya anak-anak kecil lainnya yang biasanya ga betah menunggu lama. Yang biasanya pasti jalan-jalan, atau mungkin lari-larian, merengek minta pulang, teriak-teriak atau menangis bosan karna kelamaan menunggu. Tapi anak kecil ini beda. Dia sabar menunggu sambil becanda sama mama papanya.. Hati saya makin terenyuh. Lalu tibalah giliran dia untuk masuk ke ruang dokter. Begitu dia selesai, saya lihat untuk pertama kalinya dia menunjukkan sisi anak-anaknya. Dia menangis sangat kencang begitu keluar ruang dokter. Papanya menggendong dia sambil berusaha menenangkannya. Saya nangis.. Di pikiran saya, pastilah dia habis terapi. Jadi mungkin dia kesakitan atau ketakutan...

Saya liat jam.. Jam 10 malam. Terus liat jam lagi, jam 10 lewat 20. Terus liat jam lagi, jam 10 lewat 35, dan begitu seterusnya. Sampai kira-kira jam 11 malam, saya dan tante disuruh pindah tempat duduk karna bentar lagi giliran kami. Di tempat yang baru ini, saya melihat pemandangan lain.

Seorang ibu, dengan wajahnya yang keras dan tanpa senyum. Tidak seperti pasien-pasien lain yang saling bercerita dan bertukar informasi, beliau hanya sibuk mengurusi anaknya, yang menurut saya kira-kira kalau normal, sekitar SMP kelas 1. Tapi anaknya ga seperti anak-anak pada umumnya. Anaknya duduk di kursi roda. Kedua kakinya kecil. Dan fisiknya sepertinya kurang sempurna. Kepalanya naik-turun terus. Ibunya terus mencoba mengajak anaknya ini berkomunikasi sampai-sampai tidak berniat untuk bercerita kepada pasien-pasien lain. Saya melihat bagaimana beliau, dengan begitu sabar dan (menurut saya) berusaha sekuat tenaga untuk terlihat kuat, untuk menemani anaknya (yang menurut saya) ga terlalu memberikan respon besar kepada beliau. Lagi-lagi, saya jadi sedih. Saya sedih melihat keadaan anaknya dan saya juga trenyuh (dan salut) melihat ibunya.. Ibunya sempat melihat saya sebentar. Mungkin saya ke-gap merhatiin mereka. Tapi dia ga ambil peduli. Dia hanya melihat saya sekilas lalu sibuk memperhatikan anaknya lagi, dengan wajahnya yang tegar, keras, sabar, namun penuh kasih... Hanya sekali saya lihat senyum di wajahnya. Sekali saja, saat nama anaknya dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Dia, dengan begitu tangguhnya, dengan begitu penuh kasihnya, menggendong anaknya dari kursi roda. Dia membopong anaknya masuk ruang praktek. FYI, beliau punya tubuh yang kurus, namun terlihat tidak kesusahan menggendong putranya yang kira-kira kelas satu SMP.

Saya melihat bagaimana banyak orang berjuang begitu keras untuk mendapatkan sesuatu. Untuk mendapatkan kesembuhan. Atau untuk mendapatkan suatu keadaan yang lebih baik (walaupun tidak sembuh total). Saya melihat bagaimana mereka begitu berusaha sekuat tenaga bahkan dengan semua keterbatasan mereka.

Saya malu banget.. Saya malu banget yang punya keadaan fisik yang sempurna, terkadang malah males-malesan untuk mau berusaha sekuat tenaga untuk mencapai sesuatu...

Thursday, May 20, 2010

May 2010

Kamis, 20 Mei 2010 jam 4:31 pagi
Kebangun jam 4 pagi.. Ga bisa tidur lagi.. Pikiran mulai melayang kesana-sini. Saya lalu mengambil sikap duduk, melipat tangan, dan menutup mata. Saya mengucapkan beberapa permohonan kepada-Nya.. Maunya siyy lanjut dengan lari pagi mumpung lagi niat, tappiii mikirin kalau nanti jam 10an mau main ke Snowbay,, hmmm.. jadi males.. Ntar disana malah ga have fun krn dah kecapekan.. Besok ajaaa lahhh..

Minggu, 23 Mei 2010 jam 20:39 malam
Kulit muka gue perih dan gatel2.. duhh kayaknya alergi lg niyy.. Pemicunya sepele banget. Gue make sun block muka temen gue krn gue harus berenang dan kebetulan sun block muka gue habis. Gue sadar kalau kulit gue sensitif banget. Tapi gue mikir, "ah cuma sekali ini makenya.." Tapi yg terjadi malah sebaliknya.. Besoknya kuliat muka saya perih.. Besok2nya lagi perih plus gatel. Dan hari ini kulit saya LECET ! Perihhh banget lukanyaaaaaa..

Senin, 24 Mei jam 15:15 sore
Kulit muka udah mendingan.. Hampir seharian gue kompes pake madu...

Kamis, 27 Mei jam 21:24
Lagi muter lagu Leona Lewis yg berjudul Bleeding Love yang sedikit remix. Lumayan lah bikin malem ini ssedikit hidup. Kosan saya lagi sepi banget siyy. Si U lg makan sama pacarnya. Si R belum pulang kerja. Si MJ dan S lg naik gunung. Si D dan UN balik ke rumah masing. Yang tersisa cuma saya, dua tetangga samping kiri saya, dan Aisah..

Hmmm besok mulai long weekend yaaa?? Duhh jadi inget dan kangen masa-masa saya masih kerja. Kalau udah mau long weekend rasanya senaaannnggg banget. Ibaratnya kalau sebagai auditor, long weekend itu udah rasanya udah kayak ngelihat laporan audit yang udah release. Legggaaaa banget.. Hihihiii.. Duhh kapan yaaa kerja lagi????

Jumat, 28 Mei 2010 jam 22:25
Just had a wonderful day.. Yeaayy!! Dimulai dg bangun pagi dengan wajah yang udah normal.. Akhrinyyaaa!!

Hari ini saya nonton film yg bagus "Shrek Forever After".. Filmnya mengajarkan penonton buat mencintai pasangan dg penuh rasa cukup dan bersyukur. Si Ogre, yang punya istri cantik, baik, dan sayang sama dia. Bukan cuma itu, si Ogre malah punya tiga anak yang lucu dan teman-teman yang selalu ada bersama dia. Perfect! Hidupnya sempurna.. Sampai pada suatu saat, dia mulai jenuh dan lupa bersyukur atas kehidupannya yang perfect itu. Dia mulai rindu akan kehidupannya yang dulu: Seorang Ogre yang disegani, punya kehidupan pribadi yang bisa seenaknya (menakuti penduduk, mandi lumpur, dan bermalas-malasan seenaknya, dan lain-lain). Sampai-sampai ketika dia marah, dia lupa daratan dan mengatakan kepada istrinya yang baik begini : "Aku berharap aku bisa memiliki kehidupanku yang dulu. Kehidupanku sebelum bertemu denganmu!" Hmmm disini mulai agak dalem ceritanya. Honestly saya mesti jujur, terkadang saya menjadi sama kayak si Ogre yang satu ini: lupa diri dan tanpa sadar menyakiti pasangan saya. Cerita berlajut sampai akhirnya si Ogre ini membuat perjanjian sama seorang tukang sulap yang licik untuk menukarkan "hidupnya yang perfect" dengan "sehari menjadi Ogre yang dulu."

Voillaa!! Dia mesti menebus perjanjian itu dengan sangat mahal. Iya emang akhirnya dia menikmati waktu-waktu dimana dia menjadi Ogra yang dulu namun perlahan dia mulai kehilangan kebahagiaanya itu. Dia mesti bayar mahal perjanjian yang telah ditandatanganinya dengan si pesulap yang licik itu. Dia mulai kehilangan keluarganya dan teman-temannya. Tapi dengan niat dan usaha untuk memperbaiki, akhirnya dia bisa mendapatkan kembali hidunpnya yang perfect itu.

Itu film. Saya mikir, di kehidupan nyata, mungkin saja kita benar-benar terlambat buat menyesal dan akhirnya ga bisa memperbaiki kesalahan yang udah kita buat...

Minggu, 30 Mei 2010. Jam 18:00 sore
This is the last day in May 2010. Hmmmmm,,,, pengen kerja, Tuhaaannn... But I know, You know what You have to do :) ...

nb: special thanks to a man I love, for holding my hands and abide with me through the days in this May..

Tuesday, February 9, 2010

Sepenggal curhatan

Februari 2010. Ga berasa udah 9 hari saja sejak hari terakhir saya bekerja di KPMG. Resign. Yup saya akhirnya mengambil keputusan resign tanggal 27 Januari 2010, tapi berhubung saya berhak dapet one day annual leave jadinya officially resign tgl 28 Januari 2010.

Keputusan yang udah matang. Pengen resign sebenernya dari Desember 2009. Tapi berhubung saya penasaran banget mau mencoba menyelesaikan sampe audit final dan reporting salah satu klien saya, maka saya pun menunda keputusan ini sampe akhir January. Bangga juga siyy akhirnya bisa melihat proses audit yang udah saya lakukan ini. Bangga banget bisa melihat hasil dari kerja keras saya.

Sebelum mengambil keputusan ini, saya sempat konsultasi sama beberapa orang senior dan manager. Tapi di hari H, keputusan resign saya tiba2 hampir saja ga jadi. Alasannya karena saya sempet konsultasi sama salah satu engagement manager saya, sebut saja namanya XY.

Saya : "XY, gue mau ngomong bentar dong...."

XY : "Yup silahkan saja. Tapi kalo ngomong soal resign, gue ga mau."
Dengggg!!! Saya menelan ludah.

Saya : "Serius gue.. Cepetan ah"

XY : "Hahahaha,, iya iya.. Kenapa? Kapan jadinya lo mau resign?"

Saya : "Hari ini gue last day. Nih gue mau ngobrol bentar ma lo skalian ngasih coklat.."

XY : "Hah,, hari ini?? Gue kira beberapa hari lalu lo bilang mo resign itu, maksudnya bln
depan.. Kok cpt bgt? Ada apa mel?"

Saya : " Ya habis kl gue ga keluar skarang, awal Februari gue udah megang klien lain.
Blablabla"

XY : " Alasannya lainnya kenapa mel?"

Saya : " Ada dua, satu bokap nyokap ga terlalu suka gue pulang pagi terus, trus dari guenya
juga ngerasa ga cocok disini.."

XY : "Ga cocok gimana? Gue ngerasa kerjaan lo fine-fine aja. Gue ga pernah kan komplain apa pun mengenai kerjaan lo.."

Saya : " Iya tapi gue ngerasa kerjaan gue ga cemerlang.. Gue juga mesti minta banyak guidance utk bisa menyelesaikan bagian gue.."

XY : "Ya ampunnn,, itu sih wajar. Ini kan klien pertama lo, Mel. Terus pas banget lagi lo dapet klien yg besar banget, yang terdiri dari tiga perusahaan yg harus selesai di waktu yg sama .. Ya emang berat banget mel buat pemula kayak lo. Tapi kan buktinya lo bisa menyelesaikan. "

Saya : "Tapi kan gue ga cemerlang kerjanya..."

XY : " Lo kira senior2 lo ga minta guidance sama gue? Mereka minta juga tau.. Itu mah wajar minta guidance.. Udahlah,, lo jangan resign dulu.. Lo ga bisa jadiin klien PT XX (disamarkan) jadi patokan ambil keputusan resign... Lo coba lah ke klien kedua lo yg lebih kecil dan buktiin ke gue kalo lo emang bisa... Gue yakin kok lo bisa.. Gue ga pernah kan komplain apa2 sama lo? Lo cuma ga PD aja sama diri lo sendiri, Mel.."

Blablabla


Saya : "Ah elo. Bikin gue jadi ragu aja sama keputusan resign gue..

Percakapan makin panjang.. Intinya menurut XY saya jangan resign dulu..

Saya terharu dan rasanya pengen meluk nih manager... Baik banget orangnya... Tapi setelah mikirin ulang dan sempat ragu sedikit, saya tetep kekeuh sama keputusan resign saya. Saya merasa ini keputusan terbaik buat saya dan orang tua saya.. Et voila !!

Saya udah banyak banget belajar dari kantor saya yg satu ini. Saya belajar ga cuma teori2 akuntansi ataupun auditing. Saya belajar juga bagaimana bekerja keras, membagi waktu, utk punya inisiatif, artinya saling membantu, belajar artinya kebersamaan dan kekeluargaan dll. Overall saya sangat bersyukur udah pernah ada disini. Bersyukur juga pernah punya klien yg gede bgt, bersyukur punya incharge, managers, dan tim yang sangat membantu dan menyenangkan..

Hmmm sekarang ga berasa hampir dua minggu saya sejak saya resign.. Hari2 saya, saya isi dengan jalan2 sama temen2. Suatu aktivitas yang susah banget saya lakukan pas musim peak season kemaren. Menyenangkan banget rasanya.. Istirahat juga cukup... Belum lagi sekarang ada seseorang yang selalu ada buat saya (Je t'aime) ... Hmmm,, nice...

Mungkin dalam waktu sebulan ini saya ga akan begitu antusias nyari2 kerjaan baru.. Masi mau refreshing dulu saja..

Monday, December 28, 2009

28 Desember 2009

Hari ini bagi saya merupakan hari yang sangat indah. Bukan karna saya ulang tahun. Bukan karna saya dapet kenaikan gaji. Bukan karna saya dapet surprise. Bukan !

Hari ini hari yang ga spesial. Hari yg ordinary. Hari Senin, tanggal 28 Desember 2009. Cuma, saya merasa hari ini saya sangat menikmati hidup. Hari ini benar-benar bikin saya puas. Hari ini berjalan ga seperti yang saya rencanakan kemarin.

Well, kemarin saya merencakan kalau hari ini saya harus batalin cuti saya buat follow up pending document, belajar buat stocktake akhir tahun Suzuki tgl 31 nanti, dan bikin persiapan audit final Mercy awal tahun depan. Kemarin saya bete banget memikirkan harus membatalkan cuti saya!

Tapi pagi ini kejadiannya berbeda banget. Ga tau kenapa rencana berubah total.
Saya terbangun jam 8 pagi karena HP saya bunyi. Ternyata yg menelepon adalah Gery sepupu saya.

Saya (dengan ketidakberdayaan karna masih ngantuk) : "Hallo"
Gery : Halo. Kak ikut tahun baruan yuk di puncak. Kita buka tahun disana
Saya: "Sama siapa Ger" (Tuingg!! pertanyaan bego,, ketauan masih blom loading)
Gery: "Ya kita2 aja kak. Keluarga."
Saya : "duhh ga bisa ger. Kak Nita kerja tgl 31 des dan 1 Jan ini. Mesti ke Cikarang dek. "

Lalu terbesit rasa sesal : "Yahhh ga bisa tahun baru rame2 deh di Puncak." Tapi rasa sesal itu ga berlangsung lama. Berhubung saya masih ngantuk, saya pun "ga sempat" menyesal lebih dalam. Saya pun tidur lagi.

Jam 9 lewat saya terbangun lagi. Dengan rasa malas bercampur enggan, saya ga langsung bangun dan siap-siap ke kantor. Saya malah menghidupkan laptop dan online. Tuing!! Tiba-tiba saya memutusakan untuk ga ke kantor dan tetap stick to the schedule : CUTI !! Saya pun melanjutkan aktivitas online sampe jam 10. Setelah itu saya tiba-tiba pengen masak. Masak yg sederhana saja sih.. Saya melihat ke kulkas. Ternyata masih ada persediaan ati ampla, nugget, telur, dan bumbu dapur lain. Nasi Goreng! Ide yang muncul adalah memasak nasi goreng komplit. Proses masak memasak memakan waktu sejam. Tadaaaammm,, jadilah nasi goreng ati ampla plus nugget plus telur mata sapi setengah matang.. Yummyyyy !!

Berlanjut dengan beres-beres kamar kos dan mandi. Setelah segar, tiba-tiba muncul ide lain: KE DEPOK! Brilian! Saya mesti ngambil ijasah saya yang ga sempat2 saya ambil selama ini. Sebelum ke Depok, saya sempat chatting sama teman saya Langgeng yang domisilinya masih di Depok. Saya bertanya soal cuaca karna saya tahu, Depok, kalau udah masuk bulan September, bakalan diguyur hujan (keseringan sihh hujan badai) yang bisa sampai seharian..

Saya: "Geng,, Depok lagi musim hujan deres ga? Gue mau ke Depok niyy ambil ijasah."
Langgeng:" Ya musim hujan siyy."
Saya:" Ya kalo gitu gue datengnya siang aja ya jadi sore pas pulang ga kehujanan."
Langgeng:"Justru sekarang2 hujannya seringan siang mel. Sore ga hujan."
Saya: "Oh gitu . Ya udah deh gue berangkat sorean aja jam 1an dari sini."

Saya pun lalu mengulur waktu mengikuti nasihat si Langgeng. Jam 1 siang saya pun berangkat. ke Depok. Ternyata Depok sudah berubah banyak. Jalanannya udah selesai diperlebar. Ajaib,, Depok ga macet lagi.. Horrraayyy!!!! Sampai di stasiun UI saya menunggu bikun. Aihhh berasa jadi mahasiswa lagi deh nunggu bikun buat ngampus. Kangen bgt saya sama bikun.

Lalu sampailah saya di UI jam 2 lewat dikit. Gila,, bangunan baru udah rampung.Kampus saya jadi kelihatan beda. Saya pun langsung ambil ijasah dan legalisir. But, something just shocked me! Legalisirnya mahal banget!! Selembar Rp 10 ribu. Alhasil saya yg mau legalisir 8 lembar mesti bayar Rp 80 ribu!! Bedehhh,, itu mah udah bisa makan kenyang di Sushi Tei.. Hiks.. Jam 3 saya berencana balik. Tapi upppsss, hujan deras turun mengguyur Depok. Sontak terbesit satu hal salam otak saya: "Si Langgeng bukanlah peramal cuaca yg tokcer. Ramalannya meleset!!"

Hujan yang teramat deras (ya benar dugaan saya,, hujan badai disertai petir kencang yang sahut menyahut).. Saya pun berteduh di halte Kober. Bosan menunggu, mata saya menjelajah sekitar dan melihat: " Warung Bakso Kober". Tempat saya dan teman-teman kongkow, gosip, dan ketawa-ketawa.. Saya kangen banget momen itu. Saya pun beranjak ke warung bakso langganan saya dan geng saya waktu jaman kuliah. Bernostalgia. Hmmmm,, rasanya belom berubah. Tempatnya juga blom berubah. Penjualnya juga.. Duhhh menyenangkan sekali berlama-lama duduk disana sambil menunggu hujan reda.

Sekitar jam 3.35 sore hujan mulai jadi gerimis. Saya memutuskan untuk pulang. Tapi eitsss,, saya pikir ada baiknya saya ke Dokter Kulit langganan saya dulu. Mau beli sabun cuci muka dan pelembab muka. Masih ada sihh stocknya. Tapi kalau dipikir-pikir, saya kan ga bisa tiap bulan ke Depok. Jadi mumpung lagi di Depok, saya pikir ada baiknya sekalian beli saja. Duhhh muka saya bener-bener merepotkan! Sensitif banget. Ga bisa sembarangan pakai sabun muka ato pelembab. Bisa langsung alergi parah!!

Saya memilih untuk berjalan kaki saja dari Depok ke dokter (daerah Pocin). Saya pengen ngerasain masa-masa jalan kaki saya dulu semasa kuliah. Berbekal payung plus hujan gerimis, saya menyusuri jalan kecil itu. Melewati gerobak batagor langganan, lalu warteg favorit, lalu warteg langganan, dan..... kosan saya "kosan Libra." Hmmmmm kalo saya ingat2, banyak banget kenangan di sepanjang jalan ini. Mulai dari yang senang, lucu, memalukan, sedih, kesal, dan... cinta... Hmmm.......... Saya jadi ga bisa berkata apa-apa.

Ya sudahlah. Lanjut saja... Saya pun sampai ke Dokter langganan saya itu. 20 menit saya habiskan buat jalan kaki. Senang. Puas. Ga tau kenapa, lima tahun kuliah di UI, bikin budaya jalan kaki melekat kuat. Pulang kantor saya pun terkadang lebih memilih buat jalan kaki. Temen2 saya heboh dan bilang "Gila, itu kan jauh, Mel???" Tapi bagi saya itu ga jauh. Beneran ga jauh sama sekali. Dan mengasyikkan sekali bisa jalan kaki menikmati malam hari sepulang kerja.

Setelah saya selesai berurusan dengan dokter kulit saya, saya melanjutkan perjalanan went to the cinema!! Saya nonton Avatar. Gila, tuh film keren bgt. Dan saya mendapat satu pesan penting dari film itu: "Lelaki yang baik adalah lelaki yang ga cuma gagah, tapi juga mau mengakui kesalahan dan berusaha menebus kesalahannya dengan berani. " Andai saja saya nonton film ini sama si ****** (tenang kok,, nama kamu disensor!!).. Hmmm bisa habis dia saya sindir2.. Hahahahahaha.. Gara-gara film ini,, saya jadi pengen mendapatkan suami yang mirip karakternya sama si Jake.. Hehehehehe,,

After a very nice route, I went back home (home disini maksudnya kosan). Saya mandi, makan, nulis di blog, dan tidur..... Hmmm,, hari ini sempurna banget.. Puas bisa "balik" sebentar ke masa-masa indah dulu. Senang bisa bernostalgia. Whuaaaaa,, pokoknya hari ini SEMPURNA!!!!!

Sunday, December 20, 2009

DIA berkuasa

DIA berkuasa menyalakan kerlip bintang di kala malam
DIA berkuasa untuk berperang melawan musuh-musuhku sementara aku hanya diam berserah
DIA berkuasa membungkam segala pertanyaanku yang seakan tak memiliki jawaban

DIA berkuasa menghapus air mataku dan membuatku tersenyum kemudian
DIA berkuasa menghentikan khawatirku dan menerbitkan harapan yang tak palsu
DIA berkuasa membuatku tertawa dan melupakan segala kesedihanku

DIA bersedih melihat hidupku yang jauh sering terjatuh dalam dosa
Sering kali bahkan aku mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi
Tapi DIA memaafkanku selalu dan selamanya

kepada DIA-lah aku menaruh kepercayaanku dan pengharapanku
Dan kelahiran-Nya lah yang hendak kusambut beberapa hari lagi
Sampai akhirnya kedatangan-Nya yg kedua kali-lah yang kunantikan

Datanglah Immanuel!
Maranatha!

Friday, December 18, 2009

Makna Natal yg Sesungguhnya

It's 18 Dec now!! Minggu depan kita bakal merayakan hari Natal, hari dimana Tuhan dan Juruselamat yang akbar lahir di kandang domba. Melepaskan atribut sebagai Raja untuk menyelamatkan orang percaya. Dan Ia memilih untuk menjadi seorang anak dari tukan kayu. Seperti biasa, seperti yang memang menjadi tradisi, seperti yang terjadi berulang-ulang, saya dan umat Kristiani lainnya begitu bersukacita menyambut hari ini dengan beragam cara. Ada yang memilih merayakan Natal dengan menghadiri pesta-pesta Natal besar di gereja atau di gedung mewah, ada yang memilih merayakan Natal di panti asuhan untuk berbagi dengan sesama, ada yang merayakan Natal dengan ngumpul-ngumpul bersama keluarga besar atau teman-teman. Ada juga yang sihh yang pas hari Natal sibuk belajar buat ujian kampus dan bahkan jadinya ga sempat pulang kampung karena ujian itu . Tapi saya, sepanjang hidup saya selama dua puluh dua tahun ini, intinya selalu bahagia dan bersukacita dalam menyambut Natal walau apapun yang terjadi..

Pernah tiga tahun berturut2 awal kuliah di UI dulu dimana saya ga pernah bisa pulang kampung pas natalan karena sibuk ujian di kampus. Tapi saya tetap bersukacita.. Apalagi kalau mikirin awal Januarinya bakalan bisa mudik dan liburan semester sebulan penuh!!!

Pernah juga di natal tahun 2008 lalu dimana saya selama sebulan sebelum mudik natalan, dilanda alergi hebat yang membuat saya tersiksa sebulan penuh dengan gatal2 yang ga jelas sambil tetap harus memaksakan diri belajar untuk ujian di kampus dan ujian bahasa prancis di tempat kursus saya. Saya udah bolak-balik dokter umum dan dokter kulit, tapi ga pernah ketauan alergi apa yang saya alami waktu itu. Yang bisa saya lakukan cuma mengkonsumsi obat alergi sambil menjaga makanan saja (cuma makan nasi plus sayur bening plus tahu/tempe saja selama sebulan). Pernah (berulang-ulang kali) saya mencoba ga makan obat alergi, ehhh.. gatelnya bener2 "bisa membunuh". Saya bahkan suka ga sadar menggaruk-garuk seenak saya,, sampai-sampai waktu itu leher dan muka saya banyak bekas garuk-an.. (untungnya sekaraang udah balik mulus lagi,, hehehehe).. Pokoknya itu adalah sebulan pra Natal yang benar-benar membuat saya merasa capek dan stress dan bikin saya ngebet banget pengen pulang kampung.. Begitu ngebetnya sampai2 pas hari H saya mau pulang kampung dengan penerbangan jam 7 malam, saya memilih untuk berangkat secepat mungkin, yaitu 6 jam sebelumnya. Jam 1 siang saya udah berangkat dari kosan.. Bodo amat deh mau nunggu lama di bandara, yang penting saya pulang dan bisa bersenang-senang sama keluarga saya! Titik!! Nb: ternyata akhirnya ketauan saya alergi krn ga cocok sama salah satu pelembab kulit yang merk-nya ga etis kl disebutkan di forum terbuka gini..

Ya diatas adalah sepenggal cerita saya dalam menyambut natal di tahun2 lalu. Sisanya biasa-biasa saja. Ngumpul sama keluarga besar dan bersenang-senang. Intinya,, saya selama 22 kali merayakan Natal, saya merasa Natal menjadi momen spesial. Momen dimana saya tahu iman saya ga sia-sia, dimana Juruselamat yang saya nanti2kan MEMANG benar2 datang buat menyelamtkan saya dan seluruh orang percaya! Plus,, Natal merupakan momen dimana (entah kenapa) saya (dan banyak orang lain) menjadi penuh dengan kebahagiaan dan sukacita..

Tapi untuk Natal ke-23 ini, agak berbeda. Saya sempat berpikir "Haruskah ada natal di th ini?".. Pikiran ini mulai merasuki saya karena saya sempat "agak tertekan" di bulan-bulan terakhir tahun ini. Ada banyak masalah dan tekanan yang datang kepada saya. Mulai dari masalah kerjaan dan masalah-masalah lain yang sempat bikin saya agak down.. Belum lagi, saya yg usah merencanakan buat Natalan bareng keluarga ke Medan, ternyata harus membatalkan semua rencana-rencana seru itu karena ternyata saya ga boleh cuti panjang buat natal dan tahun baru! Malahan saya harus kerja!! kerja dan kerja!! Yahhhh namanya juga akuntan,, akhir tahun,, kerjaan makin menumpuk dan menjadi2 di akhir tahun. "Haruskah ada Natal tahun ini?" Pertanyaan pesimis mulai muncul beberapa minggu lalu dalam benak saya.Saya juga jadi ga excited buat natalan tahun ini.

But thanks God, God is good. Saya hanya sempat punya pikiran kayak gitu sebentar (beberapa hari saja). DIA langsung membuka pikiran saya, kalau makna Natal jauh melampaui kumpul2 bareng dan momen bersenang-senang. Emang siyy saya ga bisa ngumpul2 bareng keluarga pas Natal tahun ini.. Emang siyy saya ga dapet cuti panjang buat Natal tahun ini dan bahkan harus kerja.. Terus kenapa?? Apakah cuma karena saya ga bisa bersenang-senang pas Natalan dan merayakan Natal dengan spesial, makna Natal ikut2an menjadi sesuatu yang ga spesial juga?? Natal jadi berkurang maknanya karena saya lg banyak pressure dan masalah?? Hmmmm dangkal banget ya pemikiran saya.. Kayaknya diluar sana,, banyak banget yang merayakan Natal di emperan dan di pinggiran jalan.. Bahkan ga bisa makan enak pas Natal (mungkin malah ga makan karna ga ada duit). Saya yang masih bisa Natalan dengan kondisi yang jauh lebih baik dari mereka kok malah sibuk menggerutu ya??

Makna Natal kan dalam banget. Makna Natal berarti jawaban iman kita sebagai orang percaya akan keselamatan dan kasih Allah, terjawab dan tak terbantahkan!! Makna Natal ga cemen!! Perihal mau bersenang-senang dalam pesta ataupun ngumpul sama keluarga besar atau teman-teman mah,, cuma bonus aja.. Kalo bisa ya bagus,, kl ngga juga ga papa..

Well,, I hope kita semua yang bisa merayakan Natal dengan makna yang sebenarnya.. Dan Iblis dan setan,, pergilah kalian!! jangan pernah merusak makna Natal yang selama 23 tahun ini telah tertanam kuat dalam otak saya!! Huss.. Husss..


SELAMAT NATAL semuanya!! Tuhan Yesus memberkati!!!! Have a joyfull, blessed, and meaningful Christmas everybody!! Hohohohohohohoo

Saturday, November 28, 2009

Lost in Space

Lost in Space by Light House Family





Sometimes, I get tired of this first attitude


You are the one thing, that keeps me smiling


That's why I'm always wishing hard for you


'Cos your life shines so bright


I don't feel no solitude


You are my first, star at night


I'd be lost in space without you





And I'll never lose my faith in you


How will I ever get to heaven, if I do






Feels, just so fine


When we touch the sky me and you


This is my idea of heaven


Why can't it always be so good


But it's alright, I know you’re out there


Doing what you've gotta do


You are my soul satellite


I'd be lost in space without you





And I'll never lose my faith in you


How will I ever get to heaven, if I do






I'll never lose my faith in you


I'll never lose my faith in you








Beberapa hari terakhir lagu ini menjadi lagu favorit saya. Bukan lagu baru memang. Sudah beberapa tahun yang lalu keluar lagu ini. Pas awal-awal keluar saya sih sudah suka sama lagu ini. Saat itu saya mengira lagu ini sama seperti lagu bernuansa romantis pada umumnya, yaitu perasaan seseorang terhadap kekasihnya. Tapi berhubung waktu itu saya cuma sebatas suka saja, jadi saya ga terlalu concern ke liriknya. Sampai suatu hari, tepatnya sekitar dua minggu yang lalu, teman sekantor saya bilang, ”Mel lo tau lagunya Lost in Space-nya Light House Family ga?”


Saya menjawab : ”iya tau. Kenapa?”


Dia : ”Katanya itu lagu rohani ya?”


Saya: ”Hah? Iya gitu?”


Dia :”Iya. Denger aja liriknya...”





Saat itu saya ga berminat lebih lanjut untuk mendengarkan liriknya lebih dalam. Saya lagi sibuk sama kerjaan yang menumpuk. Kira-kira minggu lalu, saya tiba-tiba ingat percakapan saya dengan teman saya itu. Saya pun memutar lagu tersebut. Saya mencoba mendengarkan liriknya.



Voila !! ­I got it. Saya merasa liriknya dalam sekali. Terlebih kalau saya ganti you-nya menjadi You. Kalau diterjemahkan secara kasar menjadi seperti ini:


Saat aku lelah dengan hidupku, Kau-lah satu-satunya yang tetap membuat aku tersenyum. Karena itulah aku benar-benar berharap pada-Mu.


Kaulah yang pertama, Kaulah Bintang di malam hari, dan Kau membuatku takkan pernah merasa sendiri. Dan aku pasti tersesat tanpa-Mu..


Aku kan menaruh kepercayaanku pada-Mu selalu. Selalu dan takkan pernah luntur. Dan jika nanti kerpercayaanku itu luntur, bagaimanakah aku kan sampai ke Surga?


Akan sangat indah jika Kau dan aku terbang ke langit diatas sana. Namun mengapa kenyataanya ga semudah itu ya?


Hmmm tapi ga papa. Aku tau kok, Engkau ada di sana, melakukan yang memang seharusnya Kau lakukan. Oh Kau-lah satelit jiwaku. Aku kan tersesat tanpa-Mu..



Beughhh,, dalam sekali... It touched me so deep. Hiksss,, sempat terharu.. Ga bisa kasi komen apa-apa. Lagu ini udah mengatakan semua yang saya mau katakan. Keren !!! Anyway,, jadi sebenarnya lagu ini beneran lagu rohani bukan yaaaa???


Saturday, November 21, 2009

Mon Pere

Mon père merupakan bahasa prancis yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “ayah saya”. Di notes ini saya menyebutnya ‘bapak’, karena demikianlah saya memanggil beliau.

Tanggal 20 Desember 2009 nanti bapak saya genap berusia 55 tahun. Hal ini berarti bahwa beliau resmi memasuki masa pensiun terhitung tanggal tersebut. Usia 55 tahun telah membuat beliau menjadi sosok yang sangat saya kagumi. Kalau saya flash back kira-kira 18 tahun lalu, saat saya berusia lima tahun, saya masih ingat betul keadaan keluarga saya yang belum seperti sekarang. Waktu itu kami masih tinggal di Jl. Tanjung Raja No. 47, Kenten, Palembang. Rumah saya belum berlantai keramik. Masih semen biasa. Ya semen hitam! Bapak saya juga masih tergolong pegawai rendahan saat itu. Yang saya tahu, saya dan keluarga hidup sangat bahagia saat itu (semoga sampai selamanya bahagia…). Saat itu berarti bapak saya masih berusia 37 tahun. Umur yang bisa dibilang masih relatif muda. Namun beliau sudah menunjukkan tanggung jawabnya yang besar bagi kami sekeluarga.

Mama saya waktu itu masih meneruskan kuliahnya ke jenjang S1 dan mengambil kuliah dari sore sampai malam hari. Rutinitas kami dulu begini : Pagi hari, saya dan kakak saya, Reni, diantar sekolah oleh Bapak naik vespa. Kami bonceng tiga dan biasanya saya yang duduk ditengah. Tangan kecil saya memegang erat pinggang bapak yang kokoh. Dan kalau ternyata hari lagi hujan maka bapak akan memakai jas hujan birunya yang besar untuk menaungi dirinya, saya, dan kakak saya sekaligus. Kalau sudah begitu, saya dan kakak saya tidak bisa melihat jalanan dan tahu-tahu kami sudah sampai di sekolah saja. Lucu juga kalau mengenang masa itu. Siang harinya saya dan kakak saya pulang sekolah bersama. Lalu kami menghabiskan hari bersama mama sampai sore hari.

Saat hari sudah mulai sore, mama harus berangkat kuliah. Dan saat inilah Bapak mengambil peran mengurusi anak-anaknya. Seperti anak-anak lainnya, saya dan kakak saya senang sekali main bersama anak-anak tetangga seumuran kami sampai maghrib. Dan jika sudah maghrib, bapak saya memanggil saya dan kakak saya untuk pulang dan mandi serta makan malam. Saya ingat juga bagaimana Bapak saya yang sifatnya pembersih itu sering sekali membersihkan telinga saya sore-sore. Jika kegiatan itu berlangsung, saya pasti berada dalam posisi tiduran di pangkuan Bapak. Ohya Bapak juga punya kebiasaan menggunting kuku anak-anaknya yang juga biasa dilakukan di sore hari setelah Beliau pulang kerja .Hmmmm,, saya jadi kangen beliau …

Di jaman saya SD,, saya termasuk anak yang aktif dan keras kepala. Keras kepala ini saya yakin sekali saya dapat dari Bapak saya. Saya senang sekali bermain dan sedikit enggan belajar. Hal ini semakin parah karena kakak saya, Kak Reny, merupakan anak yang kalem dan selalu meraih juara satu di sekolah. Makin “kebanting” lah saya. Bapak saya sering marah sama saya dan akibatnya saban sore Beliau suka memanggil saya untuk berdiri di hadapannya dan menyuruh saya menyebutkan dan mengulang kembali pelajaran saya di sekolah. Paling sering sih, saya disuruh mengucapkan perkalian satu sampai sepuluh. Jika saya tidak bisa, Beliau biasanya menjadi marah besar…

Sikap keras kepala antara saya dan Bapak saya membuat kami sama-sama suka berselisih karena kami saling teguh membela ide kami masing-masing. Akibatnya semasa kecil, saya sedikit merasa ada jarak dengan Beliau. Bukan dalam konotasi bermusuhan atau konotasi jelek lainnya. Kami hanya menjadi “kurang mesra” saja. Berbeda dengan hubungan saya dengan mama yang sangat akrab bahkan sering becanda dan ”gokil bareng.” Tapi satu hal yang pasti, saya menyayangi Bapak saya sama seperti saya menyayangi Mama saya. Walaupun kami sering kukuh mempertahankan pemikiran kami masing-masing, namun tak jarang Beliau akhirnya mengalah demi saya dan menuruti pemikiran dan keinginan saya yang terkadang ‘sedikit’ menyusahkan dan mungkin menjengkelkan buatnya.

Cerita berlanjut sampai kira-kira sembilan tahun lalu saat saya SMP. Saya tidur satu kamar dengan kak Reny. Seperti biasa, kalau dua perempuan yang seumuran bersama, pasti bawaannya heboh cerita-cerita. Mulai dari cerita seputar sekolah, cerita gosip, cerita cowok ganteng di sekolah (saya kan satu sekolah sama kakak saya. Cuma beda satu tahun saja), sampai ke cerita-cerita lain yang menurut kami enak buat diomongin. Tidak jarang kami tidur larut karena asyik cerita dan ketawa-ketawa. Dan akibatnya kami sering dimarahin mama dan bapak dan disuruh untuk segera tidur. Tapi pernah suatu malam saya susah tidur. Malam itu saya ingat betul saya mendengar suara pintu kamar saya dibuka. Dan saya sempat mengintip yang membuka pintu adalah Bapak saya. Beliau melakukan suatu hal kecil yang membuat saya tersentuh. Beliau menyelimuti saya lalu mengusap rambut saya dengan lembut kemudian keluar dari kamar. Kejadian itu benar-benar membuat saya menyadari bahwa saya memiliki Bapak yang benar-benar sayang sama saya.

Selanjutnya di bulan Juli kemarin saat saya pulang ke Palembang untuk liburan. Di malam terakhir sebelum saya pulang ke Jakarta, Bapak sempat memimpin doa makan malam dan menyebutkan suatu kalimat yang menurut saya adalah suatu kalimat yang paling indah yang saya dengar dari Beliau. Tidak perlu saya beritahu apa perkataan beliau dalam doa itu. Yang pasti saya merasa sangat tersentuh mendengar doanya sampai-sampai saya harus berusaha sebisa saya menghapus air mata saya sebelum doa yg diucapkan Bapak selesai atau saya akan ke-gap sedang menangis.

Sekarang ini fisik Bapak memang tidak setangguh dulu. Ia kini mulai terenggus usia. Dua tahun belakangan Bapak mulai rutin control ke Rumah Sakit Harapan Kita. Bapak juga mulai berpantang untuk beberapa kegemarannya seperti rokok (kalau masalah ini, Bapak masih suka bandel bahkan masih suka curi-curi menghisap rokok) dan makanan-makanan berlemak. Namun jiwanya masih sebening embun. Ia masih sama seperti Bapak saya dua puluh tahun lalu yang mengajari saya mengenai kesederhanaan, tanggung jawab, kepasrahan kepada Tuhan, dan pengorbanan. Dia akan tetap gagah di mata saya saat ini dan sampai kapan pun. Dia akan tetap menjadi lelaki yang sempurna di mata saya sampai kapan pun.


Saya tahu beliau telah berjuang begitu keras untuk saya dan keluarga. Saya yakin beliau pasti pernah menangis di balik bahunya yang kokoh itu. Dan setiap kali saya membayangkan ini, saya hanya mampu jadi terharu dan merasa sangat bersyukur. Saat ini yang benar-benar ingin saya lakukan adalah mencetak notes saya ini, memasukkannya ke dalam amplop, dan memberikannya langsung kepadanya. Saya ingin memeluk beliau dan mencium beliau sambil merasakan bekas cukurnya yang agak kasar saat pipi saya menyentuh pipi Beliau.

Hmm,, sebelum saya menyudahi notes saya ini, saya hanya mau bilang kepada semuanya yang membaca : kita sudah sepantasnya bersyukur memiliki seorang ayah yang tangguh dan mau berjuang demi keluarga kita! Kita sudah sepantasnya bersyukur, entah kita memiliki sosok ayah baik yang lemah lembut maupun keras hati! Karena kita tahu seperti apapun Bapak kita, merekalah yang telah nyata-nyata berjuang untuk kita dan mencintai kita tanpa pamrih .. Remercier, Mon Père... Je t ‘aime, Mon Père..

-untuk Bapak saya dan semua Bapak di bumi ini-
Vista Situmeang 21.11.09

Sunday, November 1, 2009

Dia bilang sayang padaku, tapi dia tidur dengan temanku


Saya ngga ngerti kenapa sih orang bisa dengan mudah melakukan dua atau lebih hal yang bertentangan. Seperti yang dilakukan oleh seorang laki-laki, yang namanya saya rasa tidak etis kalau saya sebutkan, kepada saya. Sebut saja namanya Arif (walaupun tingkah lakunya ga arif sama sekali).

Si Arif ini merupakan salah satu contoh nyata dimana seseorang bisa dengan mudah melakukan beberapa hal yang sangat bertentangan di waktu yang bersamaan. Arif dan saya baru saja saling mengenal dan lalu menjadi teman. Selang waktu yang singkat Arif mulai melakukan PDKT sama saya. Ya seperti halnya orang yang mulai melakukan PDKT, Arif pun menjadi intens berusaha mendekati saya. Dia jadi sering menawarkan diri untuk mengantar jemput saya, ngajak saya jalan, ngajak saya makan bareng, melontarkan pujian-pujian (yang menurut saya sekarang sih itu namanya gombal), menelepon saya, mengirim sms pada saya, dan lain-lain. Sampai suatu saat, Arif bilang sayang sama saya. Dia bilang dia memiliki perasaan spesial sama saya.
Waktu bergulir. Suatu hari saya melihat seorang teman saya, yang tidak perlu saya sebutkan nama aslinya, menangis tersedu-sedu. Sebut saja namanya Indah. Dia menangis sampai matanya bengkak. Sebagai seorang teman, saya pun tergerak untuk menghiburnya.

Saya : ”Indah, lo kenapa? Kenapa nangis sih? Sampe mata lo bengkak parah gitu..”
Indah : ”Ga papa, Mel..” Dia menjawab masih sambil mengucurkan air mata.

Saya jadi penasaran. Saya jadi tambah kasihan sama Indah. Ditambah saya tipe orang yang kalau sudah penasaran pengennya hasrat ingin tahu saya terpenuhi. Saya pun mulai melancarkan berbagai strategi untuk membuat Indah bercerita.

Saya : “Indah, cerita dong. Siapa tahu gue bisa bantu. Bla bla blabla.”

Akhirnya Indah berkata mengaku.
Indah: “Mel,, gue ML sama Arif. Gue tidur sama Arif.

Saya kaget. Well, Arif, apakah kamu sayang sama aku kalau kamu nyata-nyatanya tidur dengan temanku?

Kontan saya melontarkan pernyataan.
Saya : ”hah ?? lo bego banget sih, Indah?”
Indah: ”iya emang gue bego... blablabla.. Gue nyesel, mel...”
Saya : Beneran ya,, elo tuh bego banget. Bego!" Saya secara ga sadar jadi berteriak padanya.

Ya nasi sudah jadi bubur. Saya, Arif, maupun Indah ga bisa mengubah semua yg sudah terjadi.
Saya bingung dan bertanya-tanya. Kenapa sih orang bisa mudah banget melakukan dua hal yang kontras seperti ini secara bersamaan. Mungkin karena dia penipu! Mungkin karena dia brengsek! Mungkin karena dia bajingan! Mungkin karena dia ga punya perasaan! Menjijikkan! Kasihan! Sungguh saya sebenarnya kasihan banget sama sosok Arif! Seharusnya di usianya yang sekarang dia sudah punya jati diri yang dewasa. Thanks to myself, I'm smart enough not to fall in love with him lol!

Tuesday, October 27, 2009

Patah hati

Beberapa hari yang lalu saya dan dua orang teman kantor saling bercerita mengenai beberapa hal. Dan salah satu hal yang kami bahas adalah mengenai “patah hati”. Kami membahas hal ini karena salah satu dari teman saya ini baru saja mengakhiri hubungan dengan pacarnya.

Kami sempat membahas mengenai berapa lama sih biasanya kita terkungkung dalam rasa sakit pasca patah hati? Teman saya di A menjawab, ia sudah tiga bulan ini mengalami rasanya terkunkung dalam rasa sakit dan sekarang dia udah mulai melupakan rasa sakit itu, terus teman saya yang B, menjawab "dua hari. doang tuh". Lalu dia bertanya balik kepada saya “Kalo elo, Mel?”

Teman saya si A langsung mengambil jatah menjawab pertanyaan itu tanpa izin saya. Dia berkata, “ Kalo si Melsa mah, lama banget… Hahahahaha.” Dia lalu tertawa ngakak. Sial. Dia menertawakan saya. Huh

Patah hati. Dan kemudian menata hati. Dua hal yang saya yakin banget pernah dialami oleh kita semua. Bahkan mungkin bukan cuma sekali tapi dua kali, tiga kali, atau lebih. Masalahnya adalah berapa lama kita ada dalam suasana sakit?

Menurut saya wajar saja kalau kita menangis dan sedih. Tapi masalahnya, mau berapa lama kita begitu? Saya merasa kita semua pasti maunya cuma sebentar saja merasakan rasanya sakit. Ga perlu berminggu-minggu,, apalagi berbulan-bulan, atau malah bertahun-tahun? Oh no!!

Saya sempat bingung juga sama teman saya yang sudah setahun lebih putus dari pacarnya. Dia masih aja terus mikirin mantannya itu, nangisin mantannya itu, mereka-reka apakah mantannya itu merasakan kepedihan yang sama dengan apa yang dia rasakan?

Menurut saya, sebenarnya salah satu hal yang membuat kita makin susah untuk keluar dari zona sakit hati adalah karena kita begitu terbuai sama yang namanya “memori” atau nama lainnya “ kenangan”. Tak jarang kita, baik sengaja maupun tidak, membawa diri kita, membawa pikitran kita, membawa otak kita, untuk me-rewind kenangan-kenangan indah saat bersama mantan. Kita membayangkan bagaimana dia dulu sering melakukan hal-hal romantis buat kita, bagaimana dulu dia suka memberikan pujian-pujian kepada kita, bagaimana kita dulu menghabiskan waktu sama-sama, masak bareng, nyuci motor bareng (iya ! ada kok yang pacarannya gini), bagaimana kita bisa nangis di pelukan mantan terus merasa plong, dll.

Semuanya benar-benar indah. Semuanya benar-benar manis. Kita terbuai lagi. Kita ingin merasakan semua hal itul lagi. Kita ga bisa melepas pikiran kita dari semua memori itu. Dan secara ga sadar, kita bukan cuma nangis lagi, tapi kita jadi makin “terikat” sama dia.

Yes, it takes time ! But how long ? Menurut saya masih banyak hal lain yang jauh lebih penting selain mengurusi sakit hati. Jadi, menurut saya lebih baik sih, kita ga usah terlalu sering deh me-rewind yang namanya kenangan manis dulu. Tahan sajalah diri kita untuk itu. Perlahan tapi pasti, coba kita melihat kedepan. Siapa tahu nanti kita dapet pengganti yang jauh lebih baik dibanding sang mantan tersayang.

Is that so hard to thankful ?

Saya merasa kurang. Saya merasa tidak puas. Saya merasa semuanya melelahkan. Saya melihat kehidupan orang-orang disekitar saya. Saya melihat betapa mereka begitu melimpah. Begitu bahagia. Begitu “terpenuhi”. Saya mulai membandingkan kehidupan saya dan mereka, baik secara sadar maupun tidak.

Terkadang saya merasa “menang” namun tak jarang saya juga merasa “kalah”. Sebuanya membuat saya menuntut lagi dan lagi. Semuanya membuat saya “wondering” lagi dan lagi. Saat saya ditimpa masalah, tidak jarang saya semakin memandang kehidupan orang lain, dan merasa kok saya malang banget ya…

But God is good. Dia mengetuk hati saya. Dia dengan begitu lembut memberi tahu saya bahwa saya beruntung. Bahwa saya “tidak kalah”. Bahwa kehidupan saya “telah diatur menurut rancangan-Nya yang luar biasa indah.” Dia selalu memberikan saya pengertian untuk menjadi lebih bijak dan membuka mata saya lebih lebar.

Contohnya saja beberapa minggu yang lalu saat saya mengalami suatu masalah yang membuat saya menjadi kesal, marah, sedih, dan kecewa. Masalah yang sama dan berulang dari masa lalu. Saya bertanya dalam hati “ Kenapa harus sekali lagi ya, Tuhan?” Ya ngga perlu dijelaskan panjang lebarlah apa masalah saya itu. Yang saya mau bagikan disini hanya mengenai hikmah dari peristiwa ini.

Saya mulai mendramatisir suasana. Saya bertanya pada Tuhan “ Tuhan, saya kan ga minta hal yang besar? Saya hanya minta hal yang sederhana. Saya ngga minta hal yang luar biasa. Saya hanya minta yang standar-standar saja.” Sebenarnya saya sadar masalah yang sedang saya hadapi ini sebenarnya bukan suatu masalah yang “luar biasa besar”. Mungkin bisa dibilang masalah hanya masalah sepele dan biasa saja. Memang menyakitkan. Memang membuat saya menangis. Tapi kalau dilihat sedikit lebih jauh, masalah ini ngga membunuh saya, tuh ! Tapi mungkin karena apa yang saya mau, terlihat hanya hampir menjadi kenyataan, namun ternyata GAGAL. Mungkin disitulah letak titik beratnya. Masalah ini kemudian merembes ke dalam otak saya, dan membuat semua masalah-masalah kecil lain menjadi makin besar. Bahkan membuat beberapa hal yang tidak bermasalah menjadi masalah.

Saya sempat menceritakan masalah saya ini ke beberapa teman dekat saya. (Keseringan sih saya ceritanya sama Wiwid, teman baik saya yang siap sedia menerima segala bentuk curhatan saya. Makasiiiyyy Wiwidddddd !!!! ). Mereka kemudian memberikan saya komentar begini “ Apa lagi sih yang kurang dari lo? Semua yang lo mau udah lo dapetin. Lo udah punya banyak hal yang bikin orang lain iri. Hidup lo udah bahagia. Masalah ini ga bisa dibandingkan dengan semua kebahagiaan yg udah lo dapet. Bla bla bla.” Mereka mulai mendeskripsikan apa saja yang sudah saya dapatkan, apa saja yang bisa saya banggakan, apa saja yang saya punya dan orang lain ga punya. Namun saya masih keras kepala. Mata saya belum juga terbuka. Saya masih tetap memilih untuk stay dalam masalah/kejadian itu.

Akhirnya, perlahan tapi pasti saya mulai bisa melihat dengan jelas. Waktu saya naik bus 46 dari Pelangi ke Cawang untuk mengunjungi adik saya sepulang kerja dan makan dengan teman-teman, saya bisa melihat di sepanjang jalan, banyak orang-orang yang tidur di jalanan, beberapa orang yang memungut sampah botol plastik dan memngumpulkannya ke karung besar yang dibawa di punggung, penjual-penjual minuman dan rokok yang mukanya lusuh banget, pengamen-pengamen cacat, penjual-penjual perintilan semacam gunting kuku, benang, cotton bud, dll.. Mereka semua pasti memiliki beban hidup yang jauh lebih berat dari masalah yang sedang saya hadapi. Mereka Harus bekerja berpeluh dibawah matahari, mengesampingkan polusi ibukota yang parah, melupakan rasa lelah dan sakit, dll. Kalau dipikir-pikir uang yang mereka dapet juga mungkin ga cukup buat makan mereka dan keluarga. Saya jadi malu. Saya yang sudah wisuda tepat waktu, dapet kerja sebelum saya lulus kuliah, mendapatkan cita-cita auditor saya di kantor akuntan yang punya reputasi. Jangankan banting tulang dibawah matahari yang menyengat ataupun asap jalanan yang “ngga banget.” Saya malah punya kantor yang dirancang anti gempa (katanya), ber-AC, dingin, nyaman, dapet laptop baru dari kantor, dan banyak lagi yang plus-plus lainnya. Tapi kenapa saya masih merasa kurang ya ?Jawabannya karena saya selalu menempatkan diri saya dalam “kebutaan”. Saya sangat nyaman untuk selalu menuntut Tuhan memberikan apa yang saya mau. Saya terlalu senang menuntut Dia melakukan seperti apa yang saya mau.

Sampai suatu saat saya mulai mengerti. Tuhan mau saya menyerahkan semua yang saya minta, baik hal yang kecil maupun yang besar, baik hal yang standar maupun yang luar biasa. Dalam segala hal intinya! Tuhan mau kalau saya ga perlu ambil pusing untuk menjadi “Asistennya” dalam mengerjakan bagian-bagian-Nya. Tuhan mau saya cukup mengerjakan bagian saya, dan membiarkan Tuhan mengerjakan bagiannya.

Saturday, October 24, 2009

teringat akan si Jugul

Bangun pagi saya kali ini 'diiringi' senyum-senyum yg ga jelas. Masalahnya semalam saya bermimpi tentang seseorang yang sebenarnya sudah "out of my life".. Seseorang yang biasa saya panggil Jugul karena sikap keras kepalanya. Jugul, dalam bahasa batak artinya "bandel."

Seseorang itu adalah someone yang pernah menjadi seseorang yg spesial buat saya dua tahun yang lalu. Dia adalah sosok yang selalu menemani saya selama kurang lebih dua bulan lamanya. Sikapnya yang lucu membuat saya begitu nyaman bersamanya. Membuat saya hampir selalu tertawa bahagia saat sama-sama dengan dia. Dia sosok yang "bagaikan cermin" buat saya. Kalau saya melihat dia,, dia seperti bayangan saya sendiri di depan cermin. Kami memiliki banyak kesamaan, mulai dari sama-sama keras kepala, sama-sama batak, sama-sama gengsian, sama-sama nyolot, sama-sama manja, sama-sama anak akuntansi, dan banyak lagi sama-sama yang lain.. Sosok yang suka saya panggil "abang" dan memanggil saya "adek" kalau lagi pengen bermanja-manja ria.

Dia sosok yang kalau marah suka mengeluarkan kata-kata pedas yang membuat saya sakit hati. Dia sosok yang kalau saya bercerita mengenai permasalahan saya selalu memberikan statement balik yang tidak saya harapkan. Saya masih ingat saat saya pernah curhat kalau saya merasa UAS saya gagal dan saya curhat kepadanya begini: "Tadi UAS gue gagal. Parah. Gue tiba-tiba blank gitu.. Hadooohh gimana ya?? Gue takut ga lulus niyy.." Dan dia dengan santainya menjawab :"Makanya kalau mau UAS, ya belajar yang serius dong..."

Gleeeekkkk... Saya cuma bisa menelan ludah mendengar hal itu. Bete? So pasti.. Tapi lama-kelamaan saya ngerti kalau dia orangnya terlalu rasional.. Tapi bukan berarti dia ga punya hati.. Saya pernah sakit suatu hari. Dan dia tanpa gue minta apa-apa, langsung datang bawa bubur ayam dan jus strawberry kesukaan saya. Terharu ? Ya iyalah...

Hmmmm jadi pengen tau gimana kabarnya dia sekarang .. Bukan karena apa-apa. Cuma saja saya jadi penasaran saja..

Thursday, October 22, 2009

merengkuh cita-cita

Siang tadi saya dan teman2 kantor saya sempat mengobrol mengenai prospek masa mendatang kami di kantor. Sempat juga kami berbincang mengenai beberapa perusahaan dan kantor-kantor pemerintah yang kami coba masuki.

Hmmm,, sebenarnya saya sangat bersyukur memiliki sebuah pekerjaan di kantor saya yang sekarang. Memang saya baru masuk kantor saya ini tiga bulan yang lalu. Namun saya bahkan bisa bisa merasa sangat puas dengan apa yang saya dapatkan dari kantor saya sekarang. Bagaimana tidak ? Pekerjaan saya sebagai seorang auditor merupakan impian saya sejak saya masih kuliah, belum lagi ditambah kantor saya merupakan salah satu kantor akuntan yang reputasinya sudah ga perlu diraguakn lagi. Bukannya saya sombong, tapi saya hanya mau menunjukkan sisi dimana saya sebenarnya sangat bahagia, bersyukur, puas, dan bangga atas pekerjaan saya yang sekarang.

Namun jika ditilik lebih lanjut, sebenarnya saya memiliki sebuah cita-cita yang saya simpan dan sebenarnya sangat ingin saya dapatkan. Bagi sebagian orang, cita-cita saya ini dibilang sangat idealis dan sedikit "nggak berarti". Malah beberapa orang yang mengetahui cita-cita saya ini, berkata "Mel, kayaknya apa yang lo dapetin sekarang jauh lebih bernilai daripada cita2 lo yang sedikit ga realistis itu."


Ga realistis. Ga masuk akal. Ga bisa menunjang kehidupan. Begitu rata-rata orang menanggapi cita-cita saya ini. Sebenarnya cita-cita saya sangat sederhana : menjadi seorang guru. Ya guru. Guru di sebuah desa terpencil di suatu tempat di Indonesia ini. Mungkin di Papua. Mungkin di Kalimantan. Atau mungkin saja di kampung/desa mana saja...


People call it passion ! Ya, memang ini hasrat saya.. Hasrat untuk memberikan sesuatu yang saya punya buat orang lain. Sesuatu yang kecil tapi berguna dan dapat membahagiakan orang lain.

Saya ga munafik. Saya memiliki beberapa ketakutan tersendiri juga dalam mengejar cita2 ini. Saya takut ini merupakan hasrat sesaat saja. Saya takut ketika saya menjalani cita-cita saya ini, ternyata keadaannya ga seindah yang saya bayangkan. Saya takut kalau saya memaksakan untuk menjalani cita-cita saya ini, saya ga akan bisa memberikan kebanggaan bagi orangtua saya, termasuk tidak dapat memberikan "perintilan finansial" kepada mereka.
Ketakutan2 saya ini masih ditambah "ketidaksetujuan" dari orang-orang di sekitar saya. Makin jauhlah cita-cita saya ini... Tapi saya ga bisa bohong... Saya masi mengiginkan cita2 ini... Hasrat saya menjadi guru benar2 besar.

Sebelum saya lulus kuliah dan bekerja di kantor saya yang sekarang ini, saya sempat menjadi seorang guru privat yang mengajarkan bahasa Indonesia ke seorang ekspatriat yang baru datang ke Indonesia. Saya menemukan kepuasan disana. Bukan karena gajinya yang memang menggiurkan (walaupun tidak bisa diingkari, gajinya merupakan salah satu faktor yang membuat saya semangat ngajar), tapi lebih karena saya memang mencintai pekerjaan saya ini. Saya mendapatkan panduan dari ex-kantor saya bagaimana caranya mengajar. Namun saya ngga terlalu menurutinya. Saya memiliki dan mengajar dengan cara saya sendiri. Saya ingat bagaimana saya sehari sebelumnya harus menyiapkan materi,, membuat kuis kecil untuk pertemuan berikutnya,, dan membuat topik diskusi yang bisa membuat murid saya bisa belajar dengan cepat dan menyenangkan. Saya sangat antusias melakukan semuanya !!

Hmmmmm,,, mungkin memang saya ngga bakalan bisa menjadi guru di sebuah perkampungan kecil seperti yang sangat saya dambakan. Tapi mungkin saya masih bisa menggapai mimpi saya untuk menjadi guru nantinya.. Ya semua jalan ini saya serahkan kepada Tuhan saja... Sebagaimana saya dulu pernah sangat memimpikan menjadi seorang auditor sukses di sebuah kantor akuntan big four, dan bagaimana kemudian saya mengubur mimpi saya itu karena satu dan lain hal, namun bagaimana akhirnya Tuhan memberikan saya cita-cita saya yang sudah terkubur itu: menjadi auditor di sebuah kantor akuntan big four !! Ya, Dia memang hebat !! Dia punya rancangan dan jalan-Nya sendiri. Dia lebih mengetahui apa yang baik buat saya.
Bagi-Mu saja ya, Tuhan.. Saya hanya mau merengkuh cita-cita saya ini,, merengkuhnya dalam hati dan gengaman saya. Jika memang saya harus melepasnya ataupun meraihnya,, saya tahu,, itu hanya karena-Mu..

Wednesday, October 21, 2009

Preface

Just call me Vista as the way people call me when I was a child .. Vista merupakan nama semasa saya kecil. Nama yang makin meredup seiring dengan meninggalnya opung saya tersayang yang memberikan nama Vista kepada saya. Dulu keluarga dari pihak ayah saya (keluarga besar Situmeang) semuanya memanggil saya dengan nama Vista. Entah mengapa setelah sang pemberi nama tutup usia,, nama saya jadi ikutan tutup usia. Saat ini hanya sesekali saja saya dipanggil Vista oleh orang-orang terdekat saya.

Saya iseng aja membuat blog ini.. Mungkin blog ini bakalan menampung banyak banget tulisan2 saya nantinya,, atau mungkin saja blog ini ga keurus sama sekali nantinya,, hohohohoho.. Kita lihat saja lah nanti.

Sebelumnya saya sudah pernah buat blog tapi kemudian saya hapus karena satu dan lain hal.. Sekarang tiba2 saya jadi pengen berbagi lagi lewat blog ke orang2... Saya suka banget nulis.. Tapi selama ini saya nulisnya di buku pribadi saya.. Di kampus kalau males dengerin dosen,, saya pasti nulis,, di kantor kalau lagi ga ada kerjaa saya pasti nulis,, di waktu senggang kalau saya lagi ga ngapa2in saya pasti nulis,, dan yang pasti kalau saya lagi pengen nulis saya pasti akan langsung nulis..


-vista situmeang-